Sabtu, 25 Desember 2010

PASANGAN YANG MESTI DIHINDARI

PASANGAN YANG MESTI DIHINDARI
oleh Pdt. Dr. Paul Gunadi


Tuhan meminta kita untuk menikah dengan yang seiman. Namun untuk mendapatkan pasangan hidup yang sepadan diperlukan hikmat untuk menimbang dan memutuskan dengan tepat.

Emosi cinta adalah emosi yang kuat dan kerap mewarnai proses pertimbangan. Itu sebabnya ada pepatah yang berkata bahwa cinta itu buta, dalam pengertian oleh karena cinta akhirnya kita membutakan mata terhadap hal-hal yang buruk yang seharusnya diperhitungkan.

Berikut akan dipaparkan beberapa tipe pasangan yang mesti dihindari sampai mereka mengalami pemulihan.

I) Pasangan yang Suka Berbohong

Jika pada masa sebelum menikah ia telah kerap berbohong, besar kemungkinan ia akan melanjutkan kebiasaannya sampai pernikahan.

Ada orang yang berbohong karena takut; ada pula yang berbohong karena ingin memberi kesan yang lain tentang dirinya; namun ada pula yang berbohong karena ingin menutupi perbuatannya.

Apa pun alasannya kita mesti berhati-hati dengan orang yang dengan mudah berbohong. Setidaknya ada empat alasan mengapa kita mesti berhati-hati agar jangan sampai berpasangan dengan tipe pembohong.

1. Orang yang mudah berbohong cenderung mengambil jalan pintas yang mudah sebab kebohongan merupakan caranya untuk menghindar dari kesulitan.

2. Orang yang berbohong acap tidak mau mempertanggungjawab kan perbuatannya; itu sebabnya berpasangan dengan tipe ini akan menyulitkan kita. Hidup menuntut tanggung jawab dan orang yang mengelak tanggung jawab adalah orang yang tidak dewasa. Besar kemungkinan ia menyalahkan orang lain agar dapat membebaskan dirinya dari tanggung jawab.

3. Orang yang berbohong pada akhirnya kehilangan hati nurani dan sekali nurani hilang, apa pun akan dihalalkannya. Banyak orang yang berbohong melakukannya karena ingin berbuat dosa. Dengan berbohong, ia akan dapat menutupi dosa sehingga bisa terus melakukannya tanpa terhalangi.

4. Orang yang berbohong tidak dapat dipercaya lagi dan tanpa kepercayaan, pernikahan ambruk. Kita akan selalu bertanya-tanya akan apa yang sebenarnya ia lakukan atau tidak lakukan; apa pun yang dikatakan atau dilakukannya membuat kita meragukan ketulusannya.

Firman Tuhan :
'Mulut orang benar mengeluarkan hikmat tetapi lidah bercabang akan dikerat. Bibir orang benar tahu akan hal yang menyenangkan, tetapi mulut orang fasik hanya tahu tipu muslihat.' (Amsal 10:31-32)

II) Pasangan yang Pemarah dan Suka Memukul

Kebanyakan kasus pemukulan pasangan sesungguhnya berawal pada masa berpacaran namun kebanyakan kita mendiamkannya.

Sayangnya sekali terjadi pemukulan, maka lebih besar kemungkinan terjadinya pengulangan. Ada beberapa alasan yang umum dikemukakan yang membuat perilaku ini terus berlanjut.

1. Biasanya kita berdalih bahwa semua orang berdosa dan tidak ada yang sempurna, jadi, tidak beralasan bagi kita untuk memutuskan hubungan dengan orang tipe pemarah dan pemukul.

2. Kebanyakan pemukul menyesali perbuatannya dan meminta maaf. Melihat ketulusannya menyesali tindak kasarnya, hati kita pun luluh dan menerimanya kembali. Kita berkata, bukankah Tuhan pun meminta kita untuk memaafkan orang yang telah bersalah kepada kita.

3. Pada umumnya kita berharap dan terus berharap bahwa dengan berjalannya waktu maka ia akan sadar dan tidak melakukannya lagi. Sayangnya harapan ini tidak terbukti; lebih banyak pemukul yang melanjutkan kebiasaan buruknya sampai setelah menikah. Sekali pola pemukulan terpancang, sukar sekali baginya untuk mencabutnya, apalagi mengingat bahwa kebanyakan pemukul mempunyai daya tampung stres yang tipis.

4. Pada akhirnya pemukulan menjadi alat untuk menguasai kita, dan bukan saja untuk membungkamkan kita. Hidup dengan pemukul begitu mencekam dan membuat kita ketakutan terus menerus. Anak-anak pun harus hidup dalam ketegangan akibat kekerasan yang dilihat dan dialaminya di rumah.

Firman Tuhan
'Orang bijak berhati-hati dan menjauhi kejahatan tetapi orang bebal melampiaskan nafsunya dan merasa aman. Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar.' (Amsal 14:16- 17)

Kesimpulan :
Pernikahan dengan seorang pembohong dan pemukul adalah pernikahan yang berisiko tinggi dan berdaya merusak. Hindarilah, doronglah dia untuk menerima pertolongan dan pantaulah pemulihannya lewat rentang waktu yang panjang. Jangan cepat jatuh kasihan sebab pernikahan bukanlah sebuah rumah sakit untuk merawat orang yang bermasalah. Sudah semestinyalah kita membereskan masalah sebelum menikah agar tidak menimpakannya pada pasangan.

III) Pasangan yang Beremosi Labil

Beremosi labil lebih dari sekadar ciri kepribadian sanguin dan melankolik; sesungguhnya kebanyakan kasus emosi labil merupakan buah dari akar kepahitan dan penderitaan di masa lalu.

Sesungguhnya kita semua lahir membawa sebuah tabung emosi yang kosong; di dalam keluarga yang sehat tabung ini akan terisi kasih sayang dan pengarahan dari orangtua.

Sekali tabung ini terisi penuh, maka pengalaman seburuk apa pun tidak akan dapat dengan mudah memecahkan isi yang padat dan penuh itu.

Jika kita tidak menerima isian yang positif melainkan negatif, tidak bisa tidak, tabung emosi kita akan terisi kepahitan dan derita. Sekali tabung terisi padat dengan kepahitan dan derita, akan sukar sekali bagi pengalaman positif untuk datang masuk dan menggantikan kepahitan.

Itu sebabnya pada akhirnya orang ini akan terus bereaksi dengan pahit dan negatif. Semua ditafsir dari kacamata buruk dan sebagai akibatnya, emosinya menjadi labil dan negatif.

Menikah dengan orang tipe ini sudah tentu akan sukar dan berikut akan dipaparkan kesukarannya.

1. Emosinya mudah terpancing: kadang naik dalam kemarahan, kadang anjlok dalam kesedihan. Pada akhirnya kita menjadi frustrasi karena tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan. Kita diam salah, bersuara pun salah.

2. Kita menjauh sedikit disangka ingin meninggalkannya dan sebagai akibatnya, ia akan makin mencengkeram dan membatasi ruang gerak kita.

3. Kita mengembangkan hobi atau pergaulan dituduh tidak lagi memberinya perhatian atau tidak lagi mencintainya.

4. Sudah tentu semua ini akan berdampak pada anak sehingga anak pun tertekan. Belum lagi bila terjadi pertengkaran di antara kita sebab kita tidak selalu kuat menahan diri. Akhirnya rumah sarat ketegangan dan ketidakpastian- sesuatu yang buruk bagi pertumbuhan anak.

Firman Tuhan
'Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota . Lebih baik sekerat roti yang kering disertai ketenteraman daripada makanan daging serumah disertai dengan perbantahan. ' (Amsal 16:32; 17:1).

Orang yang beremosi labil adalah orang yang tidak dapat menguasai dirinya; hidup dengannya tidak pernah sepi perbantahan. Pada akhirnya relasi nikah retak sebab kita tidak nyaman berdekatan dengannya.

IV) Pasangan yang Hanya Mementingkan Diri Sendiri.

Pernikahan adalah tempat di mana diri harus ditanggalkan. Orang yang mementingkan dirinya adalah orang yang tidak memahami kasih dan tidak dapat mengasihi.

Berapa besarnya kasih ditentukan oleh berapa besarnya kepedulian kita pada perasaan orang yang dikasihi dan berapa relanya kita menyesuaikan diri dengannnya.

Jadi, orang yang hanya mementingkan dirinya sesungguhnya belumlah mengenal kasih dan belum dapat mengasihi dengan benar. Berikut akan dipaparkan masalah yang rawan timbul.

1. Orang yang mementingkan dirinya hanya dapat melihat segalanya dari sudut pandangnya. Ia kaku dalam bersikap dan menuntut kita untuk memahami dan melaksanakan kehendaknya.

2. Orang yang mementingkan dirinya sukar menjalin keintiman sebab keintiman dibangun di atas penyerahan dan pengorbanan diri: ia tidak berserah dan ia tidak berkorban. Pada akhirnya kitalah yang dituntut untuk terus berserah dan berkorban baginya.

3. Orang yang mementingkan dirinya biasanya membawa segudang masalah lainnya sebab sifat ini merupakan masalah yang berasal dari keluarga asalnya.

Misalnya bila ia adalah anak favorit sehingga selalu didahulukan, itu sebabnya ia menuntut kita untuk juga mendahulukan keinginannya. Ini berarti tingkat kedewasaannya rendah dan sudah tentu ini berdampak besar dalam membina rumah tangga.

Atau ia tidak dihargai sehingga bertumbuh besar dengan keinginan untuk dihargai. Itu sebabnya ia berlomba mendapatkan keberhasilan dan hal ini membuatnya berbangga hati. Alhasil dalam kebanggaan yang keluar dari kehausan ini terbentuk keegoisan yang tidak pernah dapat terpuaskan.

4. Pada akhirnya hidup dengan tipe ini sama dengan menghamba. Kita tidak dapat menjadi diri sendiri dan tidak dapat melakukan apa yang ingin kita lakukan. Hidup berputar di sekelilingnya saja dan kita harus mengikutinya. Singkat kata, keberadaan kita hanyalah untuk mendukung dan menolongnya mengembangkan dirinya belaka.

Firman Tuhan :
'Kecongkakan mendahului kehancuran dan tinggi hati mendahului kejatuhan.' (Amsal 16:18)

Orang yang mementingkan dirinya sesungguhnya adalah orang yang congkak; ia menganggap diri dan kepentingannya berada di atas orang lain.

-----------





.

__,_._,___

Jumat, 18 Juni 2010

Mencintai atau Dicintai?


"Lebih baik dicintai daripada mencintai..."

Itu adalah jawaban yang banyak dipilih wanita, dari beberapa orang yang saya tanya, sebagian besar mereka menjawab seperti itu. Hmmmm kalau saya sendiri yang ditanya seperti itu, saya memilih lebih baik saling mencintai!!!

Sebuah relationship disebut "relationship" karena hubungan itu dijalin oleh dua orang yang terlibat di dalamnya. Ada dua pihak yang "saling", bukan hanya satu pihak saja. Relationship adalah bentuk hubungan dua arah, bukan hanya satu arah. Jika hanya satu pihak yang mencintai, apakah itu bisa disebut sebagai relationship? Jika hanya satu pihak yang memberi dan pihak lainnya hanya terus menerima, apakah itu bisa disebut sebagai relationship?

Pada dasarnya seorang pria diciptakan untuk menjadi pemimpin, untuk menjadi kepala keluarga. Pria memang didesain untuk menjadi seorang "pejuang". Jika seorang pria mempunyai satu tujuan dan dia melihat bahwa sesuatu itu penting untuk diperjuangkan, maka dia akan maju dan "berjuang" dengan sendirinya. Hal ini juga berlaku dalam relationship dan hubungan dengan wanita. Seorang pria mungkin membutuhkan nasehat dan dorongan dari pihak lain dalam memulai serta membina hubungan dengan wanita yang dia ingin dekati, karena tidak semua pria terbiasa bergaul dengan banyak teman wanita atau mengetahui bagaimana cara bersikap pada seorang wanita yang spesial. Namun ini adalah sebuah proses yang wajar, yang harus dilalui oleh seorang pria, agar dia dapat bersikap seperti seharusnya seorang pria bersikap. Jika pihak wanita terburu-buru dan mengambil alih tanggung jawab yang seharusnya dilakukan oleh pria, ada beberapa konsekuensi yang mungkin akan menjadi sesuatu yang mengganjal di hati salah satu pasangan atau keduanya dan menjadi masalah di kemudian hari, karena hal ini tidak sesuai dengan rancangan awal Tuhan mengenai peranan pria dan wanita.    

Sebuah relationship merupakan hubungan yang dijalin oleh seorang pria dan wanita yang saling mencintai. Jika kita memilih lebih baik dicintai, itu juga bisa berarti gambling, karena jika seorang wanita mau saja menikah asalkan pihak prianya "cinta mati" pada dia (sementara dia tidak mempunya perasaan apapun), dia tidak tahu pasti apakah nantinya dia juga akan mencintai pria ini atau tidak. Kalau iya bagus, tapi kalau tidak? Padahal pernikahan adalah komitmen seumur hidup... 24 jam sehari, 7 hari seminggu, setiap hari mereka akan terbangun di tempat tidur yang sama... apakah bukan "penderitaan" namanya jika kita terpaksa harus menghabiskan sisa hidup kita dengan seseorang yang tidak kita cintai? Belum lagi konsekuensi psikologis yang mungkin timbul karena pasangan anda merasa tertipu ketika mengetahui bahwa anda tidak pernah mencintainya...

Memang cinta bukanlah satu-satunya alasan untuk menikah, cinta juga bukan satu-satunya dasar bagi sebuah relationship, karena dalam pernikahan, cinta harus bergandengan tangan dengan komitmen, saling menghormati dan tanggung jawab. Namun tanpa cinta, sebuah relationship bukanlah relationship yang dalam dan bermakna... karena Tuhan menginginkan seorang pria dan seorang wanita yang Dia satukan dalam pernikahan dapat hidup berbahagia, dan rancanganNya tentang pernikahan itu indah. Mengapa kita mau menerima kualitas yang tidak terlalu baik padahal Tuhan ingin kita menikmati kualitas yang terbaik?

Mencintai atau dicintai? Dua-duanya adalah pilihan yang tepat jika anda mengalaminya secara bersamaan dengan satu orang yang tepat...

Kamis, 15 April 2010

Jangan Pernah Berubah

Benarkah perhatian dan sayang dari orang-orang yang kita sayang itu diukur dari:
Sebesar seberapa kita bisa menjadi seperti yang orang kita sayang inginkan.
Sebesar kita bisa memenuhi keinginan mereka.
Sebesar kita bisa menyenangkan hati mereka.
Sebesar kita dapat berkorban dan memberi kepada mereka.

Sibuk???
Kesibukkan bisa mengambil sedikit rasa sayang itu
Kesibukkan bisa mengambil rasa peduli dan perhatian
Kesibukkan bisa merenggangkan kebersamaan itu
Kesibukkan bisa merebut sedikit canda tawa itu
Kesibukkan membuat seseorang lupa meluangkan sedikit waktu untuk orang-orang terdekat dan tersayang
Kesibukan membuat seseorang berubah sikap menjadi cuek.
Kesibukan itu…………..
Akan kah sebuah kesibukkan akan merenggut semua itu, mengalahkan semua itu.

Minggu, 28 Maret 2010

I Love You

I Love You,
Not only for what you are,
but for what I am when I am with you,
not only for what you have made of yourself,
but for what you are making of me.
I love you for the part of me that you bring out.
I love you for putting your hand into my overflowing heart
and passing over all the foolish, weak things that can't help,
dimly seeing there, and for drawing out into the light all the
beautiful belongings that no one else had looked quite far enough to find.
I love you because you are helping me to make of the dreams of my life
not a thought but a reality,
Out of the works of my every day not a reproach but a song...
Yes, a Love song...

Minggu, 01 November 2009

Everyday is exiciting

Pekerjaan yang sama, rumah yang sama, bertemu dengan orang-orang yang sama, rutinitas yang sama. Setiap hari sama.. Sebelumya, seringkali kita berpikir, Kehidupanku begitu rutin. Aku hanya bangun, bekerja, pulang. Aku melakukan hal yang sama dari hari ke hari. Tidak ada yang istimewa dalam hidupku. Hidup yang membosankan.
Jika saja aku mempunyai pekerjaan dan karir yang bagus,aku akan semangat bekerja. Jika saja aku mempunyai keluarga yang hangat, aku akan bersemangat tinggal di rumah. Jika saja aku mempunyai banyak uang, aku akan bisa berpergian kemana saja dan membeli apa saja yang aku inginkan, dan pasti hidupku akan lebih menyenangkan. Jika saja aku…

Begitu banyak pengandaian di pikiran kita yang kita pikir itu akan membuat hidup kita lebih bergairah dan semangat untuk menjalaninya. Kenyataannya, sebagian besar kehidupan kita bersifat rutin. Jika hari ini kita merasa bosan dengan hidup kita, berarti kita tidak menikmati kehidupan kita. Mulailah bersyukur atas apa yang Tuhan telah berikan pada kita. Itu adalah langkah pertama untuk melihat segala sesuatu menjadi lebih baik.

Kita mungkin tidak memiliki pekerjaan dan karir yang bagus, tapi itu bukan alasan untuk kita mengeluh. Mulailah bersyukur kepada Tuhan karena kita memiliki pekerjaan, sementara banyak orang menginginkan pekerjaan. Kita mungkin tidak mempunyai keluarga yang hangat, tapi itu bukan alasan untuk mengeluh. Mulailah bersyukur kepada Tuhan bahwa kita masih memiliki keluarga, sementara ada banyak orang hidup tanpa keluarga. Mengapa tidak kita sendiri yang menciptakan suasana hangat itu? Kita mungkin tidak mempunyai uang yang banyak, yang kita pikir itu bisa membuat bahagia. Mulailah bersyukur kepada Tuhan bahwa kita masih bisa hidup meski tidak berkelimpahan, sementara banyak orang yang hidupnya lebih sukar dari kita.

Bayangkanlah seandainya semua itu tiba-tiba diambil dari kita. Pekerjaan kita, keluarga kita, pasti kita akan merindukan hal-hal dimana kita masih bekerja, bersama orang kita kasihi, kita akan rindu untuk kembali dimana kita berada saat ini. Oleh karena itu, jangan menunggu sampai sesuatu hilang atau diambil sebelum kita benar-benar menghargai apa yang kita miliki saat ini. Mengapa harus menunggu kita menjadi kaya, memiliki pekerjaan yang bagus untuk menikmati hidup ini? Mengapa kita tidak memutuskannya sekarang, bahagia dan nikmati hidup ini sekarang juga!
Jika kita ingin memiliki hidup yang bergairah, lakukanlah segala sesuatu dengan sepenuh hati. Hasil tersebut tidak hanya akan memberi pengaruh kepada kita, tetapi juga orang-orang disekitar kita.

Bagi sebagian besar orang, hari Sabtu adalah hari tersantai bekerja. Tapi tidak bagi saya. Bagi saya, hari Sabtu adalah hari tersibuk di kantor, karena dengan jam kerja yang lebih pendek dari hari kerja lainnya, saya harus menyelesaikan banyak hal di hari Sabtu. Sabtu pekan lalu, rekan kerja saya tidak masuk. Pagi itu saya berpikir betapa repotnya saya hari ini, karena saya harus menyelesaikan pekerjaan saya sekaligus menyelesaikan pekerjaan rekan saya juga. Tapi pagi itu juga saya memutuskan, daripada saya bekerja dengan wajah cemberut sepanjang siang itu, saya memutuskan bekerja dengan sukacita. Dan hasilnya, saya enjoy mengerjakan tugas saya hari itu meskipun menumpuk.


Joel Osteen dalam bukunya Your Best Life Now, menyatakan bahwa jika anda ingin mengubah kehidupan anda, anda perlu mengubah gambaran yang sedang anda lukis dalam pikiran anda. Jadi, jika kita ingin hidup kita menjadi bergairah, kita harus menghilangkan pikiran bahwa hidup kita membosankan, kita harus berpikir bahwa hidup ini menggairahkan. Demikian juga dengan hidup ini, jika kita mau menikmati hidup ini, itu semua tergantung keputusan kita, kitalah yang harus membuat keputusan itu.

Untuk memiliki hidup yang bergairah, kita juga perlu menyadari bahwa setiap kita adalah pribadi yang unik dan berharga, dimana Tuhan mempunyai sesuatu yang istimewa untuk setiap kita.Belajarlah untuk menikmati apa yang sudah Tuhan berikan untuk hidup kita. Dan libatkan Tuhan dalam hidup kita dan apapun yang kita kerjakan, Dia akan memberikan damai sejahtera dalam hati kita serta membuat kita tetap bergairah dalam menjalani hidup, dan menolong kita untuk menikmati setiap hari dari kehidupan kita, walaupun keadaan kita tidak memungkinkannya. Dengan menghargai setiap hari dalam kehidupan yang sudah Tuhan berikan, pasti Dia akan membuat setiap hari menjadi berarti.


Enjoy your life and make everything is exciting with God!!

Minggu, 25 Oktober 2009

I’m Single and I’m Happy


I’m Single and I’m Happy

Hmm...sebenarnya ide menulis topik ini dari dulu sudah ada dalam pikiran saya tapi belum sempat, sampai suatu saat, tiba-tiba sahabat saya tantangin saya untuk nulis topik ini, kok kebetulan, hmm jadilah tulisan ini. Hehehe...
Sebelumnya aku pernah melewati masa-masa “depresi” dimana saya merasa sangat “lonely” setelah putus, begitu sedih saat satu persatu teman-temanku mulai menikah, saat mama dan kakakku mulai bertanya-tanya, “Kapan mel? Ayo cepetan..” , saat aku menyadari usiaku yang semakin bertambah.. Sampai suatu ketika aku menyadari, bahwa Tuhan mempunyai rencana yang terbaik buat aku. Dia lebih tahu orang yang tepat untuk aku, dan saat yang tepat untuk aku.

Masa Single Adalah Sebuah Karunia dari Tuhan
Jika saat ini anda masih single atau belum mempunyai pasangan, saya ingin mengajak anda memandang masa ini sebagai suatu masa yang istimewa dari kehidupan kita, suatu karunia dari Tuhan. Sebagian besar dari kita pasti tidak mau menjadi single seumur hidup, pastilah kita memimpikan suatu pernikahan yang indah. Namun, masa single adalah masa yang harus kita lewati untuk menuju kearah tersebut. Tuhan tidak memberikan masa single ini sebagai hukuman buat kita, tapi Ia menciptakan masa single ini untuk memberikan kita kesempatan untuk menikmati masa single ini, bukan hanya untuk sekedar kita lewati begitu saja.
Suatu hari seorang teman mengirim sms, dia mengatakan enaknya kalau punya pacar, pasti gak akan kesepian seperti ini. Dulu saya juga mempunyai pemikiran yang sama seperti yang dia katakan saat itu. Tapi waktu saya menjalani hubungan yang terakhir dengan pacar saya, setelah putus saya menyadari bahwa pemikiran itu salah!! Punya pacar tidak akan membuat kita lebih bahagia, kalau kita tidak pernah puas dengan diri kita sendiri, jika kita tidk pernah bahagia dengan diri kita sendiri, jika kita tidak bisa mencintai diri kita sendiri. Karena sumber kebahagian kita bukan terletak pada orang lain, bukan karena suasana disekitar kita.
Hmmm contohnya, dulu waktu saya punya pacar, saya juga sering merasa kesepian tuh kalau dia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Kalau dia gak sms atau telpon, saya ngambek.. “Kok gak sms sih, kok gak telpon sih? Kok aku gak diperhatiin sih? , Kamu kok gak seperti dulu lagi sih? Hahahaha… childish banget deh!!! Baru nyadar setelah putus,hehehe...
Sampai akhirnya saya menyadari bahwa Tuhan mengijinkan saya melewati semua ini karena Dia ingin saya belajar sesuatu. Belajar mengasihi diri saya sendiri, belajar menemukan diri saya sendiri dan lebih mengenal diri saya sendiri lewat masa single ini. Mengasihi diri sendiri berarti kita harus mengenal siapa kita, mengapa dan untuk apa kita ada di dunia, serta mampu menerima keberadaan diri sendiri. Kalau kita belum bisa mengasihi diri sendiri dan Tuhan, bagaimana kita bisa mengasihi pasangan kita? Misalnya begini, kita tidak puas dengan keberadaan kita, kita kecewa dengan hidup kita, atau kita pingin punya pacar karena alasan yang “gak dewasa”, kita pingin punya pacar karena supaya tidak kesepian, ada yang perhatiin kita, ada yang bisa nemenin jalan-jalan. Lalu suatu saat kita bertemu dengan seseorang yang penuh percaya diri, hidup terencana, kemudian kita menikah. Yang terjadi kemudian, saya menuntut pasangan saya untuk terus-menerus mengisi kekosongan hidup saya, pernikahan tersebut terjadi karena sebenarnya saya mencari orang lain untuk mengisi kekosongan dalam hidup saya. Atau yang lebih parah, ketika kedua-duanya belum siap, maka dalam pernikahan akan terjadi kehampaan dan menjadi sumber masalah.
Masa single bukanlah hal yang menakutkan atau akan membuat kita kesepian. Masa single adalah masa dimana kita bisa belajar dengan sepenuh hati, belajar mengenal siapa diri kita sesungguhnya, dan mengerti maksud Tuhan untuk diri kita. God is love, dan Dia ingin selalu agar kita saling mengasihi. Untuk bisa mengasihi pasangan kita, terlebih dahulu harus bisa mengasihi diri sendiri. Mengasihi diri sendiri berarti tidak egois atau self-centered. Saya merasa disinilah saya dibentuk Tuhan, belajar menjadi “dewasa”, setelah melewati perjalanan panjaaang dan lama dengan mantan saya. Putus dan menjadi single, saya belajar banyak hal... Kadang Tuhan mengijinkan kita bertemu dengan orang yang salah sebelum kita bertemu dengan orang tepat, atau sebenarnya kita sudah bertemu dengan orang yang tepat, namun saatnya kurang tepat, Tuhan melihat masih banyak hal yang harus diubah dalam diri kita berdua, dan Tuhan ijinkan kita putus karena lewat itulah kita belajar sesuatu dan Tuhan mau memproses karakter kita melalui orang itu. Dulu saya pernah mengalami masa2 sedih itu, tapi sekarang saya bersyukur Tuhan ijinkan saya melewati semua ini. Apapun penyebabnya, masa single bukanlah untuk mengasihani diri sendiri.
Masa single adalah karunia, mari bersukacita didalamnya dan nikmati kesempatan yang ada hari ini. Kadang saya shopping bersama sahabat saya, tapi saat dia tidak bisa menemani saya, saya jadi terbiasa shopping sendiri, keluar makan pizza sendiri, dan yang terakhir mencoba nonton sendirian, hehehe… dan saya enjoy aja. Daripada kita terburu-buru memasuki pernikahan karena ketidaksabaran atau terdesak usia kita, kemudian menikah dengan orang yang salah, suatu hari kita akan memandang kembali masa single ini dengan penuh penyesalan, marilah kita bersukacita dan menggunakan masa single ini semaksimal mungkin. Marilah kita berlatih mempercayai Tuhan dengan segenap hati kita dan membiarkan Tuhan sendiri yang membuat perencanaan untuk kita.
Menunggu waktu Tuhan memerlukan kepercayaan dan kesabaran. Demikian juga dengan masa single ini, saat menunggu inilah saya jadi lebih bisa melihat bermacam-macam karakter orang lain, mendengar cerita teman-teman saya baik yang sedang menjalin hubungan berpacaran maupun yang sudah menikah, dan saya bisa belajar banyak dari mereka. Bahkan ada beberapa teman saya yang sering curhat dan mengatakan, kalau tahu gini mending ga nikah… Semua itu membuat saya seharusnya bersyukur dengan keadaan saya, dan menggunakan masa ini semaksimal mungkin untuk mendapat yang terbaik dari Tuhan. Kalau kita menginginkan yang terbaik dari Tuhan, kita juga harus belajar menjadi yang terbaik di hadapan Tuhan. Kalau kita ingin mendapat pasangan yang terbaik, kita juga harus belajar menjadi pasangan yang terbaik, belajar dari sekarang. Inilah saatnya, yang Tuhan ingin kita lakukan dalam masa single ini.

Masalah apakah kita akan melewati masa single ini dengan cepat atau tidak, itu urusan Tuhan. Yang pasti, percayalah Tuhan sudah menyediakan pasangan yang terbaik buat kita. Tuhan akan mempertemukan kita dengan pasangan kita jika masing-masing kita sudah siap, mungkin si cowok sudah siap, tapi Tuhan melihat si cewek belum siap, saat itulah Tuhan akan memproses kita lagi sampai keduanya siap. Saat Tuhan tahu bahwa kita siap untuk membuat komitmen yang bertanggung jawab, ia akan mempertemukan kita dengan orang yang tepat pada saat yang tepat. Kapan saat yang tepat? Hanya Tuhan yang tahu. Dia tahu yang terbaik!

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu haru depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11)

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktuNya…” (Pengkotbah 3:11a)

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu; tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”
( Matius 6:25,37)


So, enjoy yourself and enjoy your singleness….