Jumat, 25 Juni 2010
Jumat, 18 Juni 2010
Mencintai atau Dicintai?
"Lebih baik dicintai daripada mencintai..."
Itu adalah jawaban yang banyak dipilih wanita, dari beberapa orang yang saya tanya, sebagian besar mereka menjawab seperti itu. Hmmmm kalau saya sendiri yang ditanya seperti itu, saya memilih lebih baik saling mencintai!!!
Sebuah relationship disebut "relationship" karena hubungan itu dijalin oleh dua orang yang terlibat di dalamnya. Ada dua pihak yang "saling", bukan hanya satu pihak saja. Relationship adalah bentuk hubungan dua arah, bukan hanya satu arah. Jika hanya satu pihak yang mencintai, apakah itu bisa disebut sebagai relationship? Jika hanya satu pihak yang memberi dan pihak lainnya hanya terus menerima, apakah itu bisa disebut sebagai relationship?
Pada dasarnya seorang pria diciptakan untuk menjadi pemimpin, untuk menjadi kepala keluarga. Pria memang didesain untuk menjadi seorang "pejuang". Jika seorang pria mempunyai satu tujuan dan dia melihat bahwa sesuatu itu penting untuk diperjuangkan, maka dia akan maju dan "berjuang" dengan sendirinya. Hal ini juga berlaku dalam relationship dan hubungan dengan wanita. Seorang pria mungkin membutuhkan nasehat dan dorongan dari pihak lain dalam memulai serta membina hubungan dengan wanita yang dia ingin dekati, karena tidak semua pria terbiasa bergaul dengan banyak teman wanita atau mengetahui bagaimana cara bersikap pada seorang wanita yang spesial. Namun ini adalah sebuah proses yang wajar, yang harus dilalui oleh seorang pria, agar dia dapat bersikap seperti seharusnya seorang pria bersikap. Jika pihak wanita terburu-buru dan mengambil alih tanggung jawab yang seharusnya dilakukan oleh pria, ada beberapa konsekuensi yang mungkin akan menjadi sesuatu yang mengganjal di hati salah satu pasangan atau keduanya dan menjadi masalah di kemudian hari, karena hal ini tidak sesuai dengan rancangan awal Tuhan mengenai peranan pria dan wanita.
Sebuah relationship merupakan hubungan yang dijalin oleh seorang pria dan wanita yang saling mencintai. Jika kita memilih lebih baik dicintai, itu juga bisa berarti gambling, karena jika seorang wanita mau saja menikah asalkan pihak prianya "cinta mati" pada dia (sementara dia tidak mempunya perasaan apapun), dia tidak tahu pasti apakah nantinya dia juga akan mencintai pria ini atau tidak. Kalau iya bagus, tapi kalau tidak? Padahal pernikahan adalah komitmen seumur hidup... 24 jam sehari, 7 hari seminggu, setiap hari mereka akan terbangun di tempat tidur yang sama... apakah bukan "penderitaan" namanya jika kita terpaksa harus menghabiskan sisa hidup kita dengan seseorang yang tidak kita cintai? Belum lagi konsekuensi psikologis yang mungkin timbul karena pasangan anda merasa tertipu ketika mengetahui bahwa anda tidak pernah mencintainya...
Memang cinta bukanlah satu-satunya alasan untuk menikah, cinta juga bukan satu-satunya dasar bagi sebuah relationship, karena dalam pernikahan, cinta harus bergandengan tangan dengan komitmen, saling menghormati dan tanggung jawab. Namun tanpa cinta, sebuah relationship bukanlah relationship yang dalam dan bermakna... karena Tuhan menginginkan seorang pria dan seorang wanita yang Dia satukan dalam pernikahan dapat hidup berbahagia, dan rancanganNya tentang pernikahan itu indah. Mengapa kita mau menerima kualitas yang tidak terlalu baik padahal Tuhan ingin kita menikmati kualitas yang terbaik?
Mencintai atau dicintai? Dua-duanya adalah pilihan yang tepat jika anda mengalaminya secara bersamaan dengan satu orang yang tepat...
Langganan:
Postingan (Atom)